5 Kajian Teori Psikolinguistik

Penting bagi kita untuk mengetahui 5 Kajian Teori yang menjadi dasar pemikiran sebagai pijakan dalam memaknai suatu fenomena pemerolehan bahasa

Pada artikel terdahulu sudah admin jelaskan materi terkait psikolinguistik, dari mulai pengertian, sejarah, hingga ruang lingkupnya, karena bisa dibilang artikel tersebut merupakan landasan awal kalian dalam memahami psikolinguistik.

Maka jika kalian belum membacanya kalian dapat melihatnya melalui tautan berikut Psikolinguistik: Pengertian, Sejarah serta Ruang Lingkupnya

Kajian Psikolinguistik ini cukup luas, tentu hal ini disebabkan karena merupakan bagian dari kajian makrolinguistik.

Akan tetapi menariknya adalah terdapat 5 kajian teori psikolinguistik yang paling populer dan banyak digunakan sebagai paradigma dalam menganalisis suatu fenomena. Simak ulasan selengkapnya.

5 Kajian Teori Psikolinguistik

Kajian Teori Psikolinguistik

Teori Struktural Universal: Jakobson

Menurut Roman Jakobson (1956) mengatakan bahwa pemerolehan fonologi didasari pada linguistik universal, yang artinya kaidah struktural yang melandasi tiap perubahan bahasa dengan menghubungkannya pada afisia (gangguan bahasa) serta proses penyembuhannya.

Teori ini juga didasari oleh analisis fitur yang khas dan berasumsi bahwa pemerolehan fonologi anak-anak merupakan proses kreatif.

Teori struktural universal dapat disimpulkan:

+) Perkembangan kontras selanjutnya diterangkan dengan kaida irreversible solidarity dan kaidah implikasi.

+) Anak-anak biasanya menyimak dan mengucapkan bunyi bahasa berdasarkan fitur

distingtif (khas) yang diperoleh menurutnya hirarki yang sistematis dan universal.

+) Fitur yang diperoleh anak itu fitur berkontras (oposisi fonemis), yakni oral-nasal (/b/;/m/), labio-dental (/p/;/t/),stop frikatif (/p/;/f/)

+) Selama proses pemerolehan bahasa, ucapan seorang anak mempunyai struktur sendiri. Meskipun begitu, akan menunjukkan persamaan yang sistematis dengan ucapan orang dewasa.

+) Bunyi bahasa yang sering diucapkan seorang anak ditentukan oleh konvensi lingkungan pemakainya.

+) Pemerolehan bahasa meliputi dua periode, yakni (i) masa membabel prabahasa, dan (ii) masa pemerolehan bahasa murni.

Teori Generatif-Struktural Universal: Moskowitz

Moskowiz (1970) meluaskan teori Jakobson tentang pemerolehan bahasa pada anak berdasarkan Tata Bahsa Generatif dari Chomsky.

Menurut Moskowiz, pemerolehan bahasa pada bayi dilakukan dengan kesadaran dalam perbedaan antara bunyi manusia dengan bunyi-bunyi lain yang bukan dari manusia. Hal tersebut merupakan kemampuan nurani pada bayi.

Teori ini bisa disimpulkan sebagai berikut:

+) Pemerolehan dan perkembangan fonologi anak merupakan penemuan konsep unit dan pemerolehan rumus yang mengatur susunan unit-unit itu.

+) Teori ini menganggap bahwa penemuan unit fonologi merupakan bagian penting dalam proses pemerolehan fonologi.

+) Anak mulai melakukan penemuannya pada peringkat―membabel (babling) yang cukup sukar dipisahkan dari peringkat perkembangan fonologi selanjutnya.

+) Langkah awal pada anak ialah menemukan konsep dalam bentuk hipotesis bahwa arus ucapan orang dewasa terdiri atas rangkaian unit-unit bunyi yang dapat dipisahkan sehingga babel pada anak akan semakin panjang dan berstruktur.

+) Keunggulan terpenting dalam peringkat membabel ialah konsep unit kalimat yang ditandai oleh rangkaian bunyi yang diikuti oleh kontur intonasi.

Teori Proses Fonologi Alamiah

Stampe (1969;1972) menjelaskan bahwa pemerolehan fonologi berdasarkan teori fonologi alamiah (a theory of natural phonology). Menurutnya, proses fonologi dilakukan dengan 3 hal yaitu:

+) Menindas hal-hal yang menghambat suara.

+) Membatasi proses mengambat suara, yang artinya anak-anak dapat membatasi antara mana yang benar-benar menghambat suara dan yang tidak menghambat suara.

+) Mengatur proses terjadinya penghilangan bunyi suara hingga proses pengadaan suara.

Ketiga proses yang dilakukan ini tidak dapat dipaksakan oleh orang dewasa agar anak tersebut dapat memperoleh suatu fonologi.

Proses pemerolehan itu terjadi secara alamiah pada anak. Selain itu, proses pemerolehan fonologi anak merupakan hasil murni setelah ia dapatkan dari mendengarkan ucapan orang dewasa di lingkungannya.

Teori Prosodik-Akustik

Teori kontras dan proses ini diperkenalkan oleh pertama kalinya oleh Waterson. Dengan adanya teori ini dikarenakan adanya tidak kepuasan dengan pendekatan fonemik sugmental pada gambaran yang sebenarnya mengenai bagaimana cara pemerolehan fonologi.

Pada pendekatan ini Waterson ia beranggapan bahwa anak-anak yang memperoleh fonologi bedasarkan fonem, sehingga banyak bahan fonetik yang tidak dipakai.

Selanjutnya, Waterson menggunakan pendekatan nonsegmental melalui pendekatan prosodi yang dianggap lebih efektif. pendekatan ini akan akurat dengan adanya analisis akustik, sebab analisis prosodi hanya melihat artikulasinya.

Adapun mekanisme artikulasi yang dimaksud dengan mekanisme artikulasi adalah alat ucap mana yang bekerja atau bergerak ketika menghasilkan bunyi bahasa. Bunyi dapat dikelompokkan sebagai berikut.

+) Bunyi bilabial, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan bibir (labium) atas. Caranya, bibir bawah (sebagai artikulator) menyentuh bibir atas (sebagai titik artikulasi). Misalnya, bunyi [p], [b], [m], dan [w].

+) Bunyi labio-dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan gigi (dentum) atas. Caranya, bibir bawah (sebagai artikulator) menyentuh gigi atas (sebagai titik artikulasi). Misalnya, [f] dan [v].

+) Bunyi apiko -dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan gigi (dentum) atas. Caranya, ujung lidah (sebagai artikulator) menyentuh gigi atas (sebagai titik artikulasi).

+) Bunyi apiko-alveolar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan gusi (alveolum) atas. Caranya, ujung lidakh (sebagai artikulator) menyentuh kaki gigi atas (sebagai titik artikulasi)

+) Bunyi lamino-palatal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tengah lidah (lamina) dan langit-langit kertas (palatum). Caranya, tengah lidah (sebagai artikulator) menyentuh langit-langit keras (sebagai titik artikulasi). Misalnya, [c], [j]. [ñ], [š].

+) Bunyi dorso-velar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum). Caranya, pangkal lidah (sebagai artikulator) menyentuh langit-langit lunak (sebagai titik artikulasi). Misalnya, [k], [g]. [x], [ n].

+) Bunyi (dorso-) uvular, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah (dorsum) dan anak tekak (uvula). Caranya, pangkal lidah (sebagai artikulator) menyentuh anak tekak (sebagai titik artikulasi). Misalnya, [q]. [R].

+) Bunyi laringal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tenggorok (laring). Caranya, udara yang keluar dari paru-paru digesekkan ke tenggorok. Misalnya, [h].

+) Bunyi glotal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan lubang atau celah (glotis) pada pita suara. Caranya, pita suara merapat sedemikian rupa sehingga menutup glotis.

Teori Kontras dan Proses

Teori kontras dan proses pada pemerolehan fonologi, pemerolehan setiap bunyi itu secara berangsur-angsur dan perlahan-perlahan, bukan tiba-tiba.

Secara progresif hingga bisa tercapainya seperti orang dewasa, ucapan anak-anak pasti mengalami perubahan dari yang salah menjadi benar.

Pemerolehan fonologi berlaku secara umum dalam proses penyederhanaan untuk kelas-kelas bunyi, bukan hanya menyangkut pada pemerolehan bahasa secara terpisah, terdapat empat hal dalam proses ini, yaitu:

  1. Proses struktur suku kata yang menggunakan konsonan akhir, reduplikasi, yang menggunakan suku kata tidak berketahanan, dan pengurangan gugus.
  2. Proses asimilasi, yaitu terbiasanya mengasimilasikan antara satu bagian ke bagian lainnya. Dengan adanya asimilasi progresif, regresif, tidak progresif, dan tidak regresif.
  3. Proses substitusi dengan pengedepanan dan
  4. Proses pluralis (jamak)

Hidup adalah untaian makna dari kata yang ditulis semesta

Posting Komentar

Mari kita diskusikan bersama...
Gunakanlah kata-kata yang sopan, dengan tidak menggunakan unsur-unsur kekerasan, sara, dan menyudutkan seseorang. Terima Kasih
© Tweet Ilmu. All rights reserved. Edited by Tweet Ilmu