UYmJLCizCo2ZTQJP06dFQPoA3AYXIznXlgFMCQ7t

Cerpen Ironi Sang Pengagum Jarak (Lembaran Baru Mengubah Coretan Masa Lalu)

"Apakah perpisahan mampu menunjukkan dominasi nya atas kesetiaan dan penyesalan hadir atas pengaruh ke-egoisan?" (Cerpen Seri ke-2 dari Pengagum Jarak) Bila kalian yang mau mendownload cerpen ini dalam bentuk pdf, silahkan klik DOWNLOAD

Ironi Sang Pengagum Jarak
Ironi Sang Pengagum Jarak

Prolog

"Ada apa git, tumben kamu minta ketemuan disini? Aku jadi inget deh, tempat ini kan tempat kita jadian dulu" Tanya Rehan.
"Aku mau nanya deh, menurut kamu, kalo aku kuliah di banten, hubungan kita bakalan bisa berlanjut gak yah?" Ujar Gita
"Loh pasti bisalah, asal kitanya saling menjaga perasaan dan konsisten atas pilihan hati, dan yang penting nih, kita tetap jaga komunikasi, lagipula banten seberapa jauhnya sih dari jakarta, jangankan di banten, di papua pun bakalan aku kejar cinta kamu git" Jawab Rehan

"Tapi gita gak yakin kita bisa" jawab gita, yang tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.
Lalu rehan meraih tangan gita, dan menatap gita dalam-dalam.
"Kamu harus yakin Git, meski nantinya kamu bakalan nemuin ratusan orang yang lebih sempurna daripada aku, tapi kamu harus tau, rasa cinta aku ini sangat besar buat kamu, dan aku siap menunggu kamu git"

Saat itu aku pun tidak menjawab dan langsung meninggalkan rehan begitu saja. Dan aku pun dilema dalam memutuskan, apakah akan aku lanjutkan atau justru hubungan ini berhenti di paruh jalan. Rehan pun berhak bahagia, dan kebahagiaannya mungkin bukan bersama ku, maafkan aku.

Dalam keheningan malam, aku duduk di teras, memandang bintang, sambil memikirkan rasa yang sebentar lagi akan menjadi kenangan. "Apakah perpisahan mampu menunjukkan dominasi nya atas kesetiaan dan penyesalan hadir atas pengaruh ke-egoisan?"

----------
7 hari telah berlalu, dan 7 hari pula aku sudah tidak mendengar kabar dari rehan. wajar saja sih, mungkin dia sangat kecewa atas kejadian malam itu, aku coba menghubungi untuk sekedar memberi kabar bahwa aku akan pindah mulai besok, tapi tak ada balasan apapun darinya.

Memulai Lembaran Baru

"Gita, ayo bangun nak, hari ini kamu berangkat pagi loh, kan ada jadwal daftar ulang dikampus" ujar mama sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar.

Rasanya mata ini masih enggan melihat indahnya dunia, apalagi dihati masih berkecamuk perasaan bersalah ini.

"Iya ma, gita siap-siap dulu" jawab Gita.

----------
"Gita, pasti kamu bisa kok, melewati hari-hari tanpa rehan, semangat, pasti bisa, yakin" Gita berbicara sendiri di depan cermin yang ada di kamar nya.

Setelah perlengkapan semua siap untuk dibawa, lalu aku berjalan menuju meja makan, untuk kemudian sarapan pagi.
----
"Hari ini kamu bareng kak johan kan berangkatnya ?" Tanya mama
"Kayaknya enggak deh ma, soalnya gita mau bareng sama putri dan risa"

Perlu diketahui bahwa putri dan risa merupakan sahabat Gita dari kecil, putri adalah anak dari tantenya, sementara risa adalah teman sma nya.

"Ohh yaudah kalo gitu, kamu hati-hati ya nak, inget kalo udah selesai langsung pulang"
"Iya ma, ya ampun. gita kan udah gede, jadi bisa jaga diri hehehe. Yaudah ma, sarapan nya gita bawa ke kampus aja ya takut telat. Ma, kak, gita jalan dulu ya." Pamit kepada kak johan dan mencium tangan mama.

"Iya nak hati-hati." seru mama.
"Iya"

----------
Di depan gerbang ku lihat sudah ada putri dan risa yang menunggu.
"Ayo git, buruan naik motor gue, biar gue yang bonceng"
"Iya-iya"

Daftar Ulang

Sesampainya dikampus, kami lihat banyak sekali mahasiswa yang daftar ulang, bahkan antriannya meluber sampai keluar, maklum lah, karena aku lihat loket yang melayani sangat terbatas dan tak mampu mengimbangi jumlah mahasiswa yang daftar ulang.

"Waduh rame juga ya ris." Seru putri
"Mau sampe jam berapa kita disini ya.." Risa menimpali.
"Lama juga gpp sih, asal ada cowok ganteng yang nemenin kita" celetuk putri dengan genitnya.
"Apasih kalian, udah ah jangan buang-buang waktu, ayuk kita kesana" ujar gita.

----------
Setelah menunggu hampir 3 jam, barulah giliran nama ku yang dipanggil. huft, baru juga daftar ulang udah capek gini ya, gimana nanti kalo udah sibuk kuliah, pasti sering pulang malam.

Seketika pikiran ku terbang memikirkan rehan.
"Kabar rehan gimana ya, apa dia masih marah? Baru aja mau bilang kalau aku udah bisa yakinin diri buat LDR, tapi dianya malah begini, mungkin emang semuanya salah aku."

----------
Seketika lamunan ku dikejutkan oleh ucapan risa.
"Hei gita, ngelamun aja deh, mikirin apa sih!" Seru risa
"Paling juga mikirin rehan kan ?" Sambung putri.
"Ihh apasih kalian.." jawab gita.

"Udahlah git, move on aja, lagipula gue yakin masih banyak kok cowo di dunia ini dan mumpung lo disini, yaudah sekalian aja cari cowo baru" seru risa.
"Iya bener git, secara lo ini kan cantik, pasti gampanglah nyari cowo, jangankan nyari, nanti juga ada yang ngejar-ngejar lo" tambah putri.

"Trus rehan gimana ?" Tanya gita.
"Setidaknya lo udah pernah ngerasain bagaimana caranya mencinta git, lagipula..." Belum sempat putri melanjutkan omongannya, tiba tiba gita memotong pembicaraan nya.

"Apa kalian berdua tau, dalam cinta itu gak ada yang namanya istilah udah pernah, karena cinta sejati itu tidak akan pernah hilang" tegas gita.

"Trus sekarang gimana? Apa rehan masih ada buat lo? Atau justru hilang dan menjauh? Udah git, lo gausah korbanin perasaan lo buat orang yang udah gak peduli lagi sama lo, inilah saatnya lo buka lembaran baru." Jawab putri.

----------
Mungkin benar apa yang dikatakan putri, aku harus membuka lembaran baru, agar aku bisa menulis cerita cinta baru tanpa adanya coretan dari cerita sebelumnya, namun yang menjadi pertanyaan adalah, siapa orang yang mampu menuliskan kisahnya melalui pena yang ia bawa, di lembaran baru ku ini?.

Membuka Lembaran Baru

Rasanya tidak ada yang spesial di minggu pertama kuliah ku ini, meski berkenalan dengan teman-teman baru, tapi aku rasa aku lebih rindu masa lalu, ada apa dengan diriku, apakah hati belum mampu mengikhlaskan dirimu yang kini terlanjur semu?

Suasana sangat ramai, teman-teman ku tampak membicarakan sesuatu, aku penasaran sebetulnya apa yang tengah mereka bicarakan. 

Tiba-tiba putri datang menghampiri ku dengan terengah-engah, karena ternyata lari dari lantai satu.

"Git, gita," ujar putri.
"Kenapa put"
"Lo udah tau belum?" Tanya putri.
"Loh tau apasih? Sebenernya yang lain tuh lagi ngomongin apaan sih, kok seru banget kayaknya" tanya gita, bingung.
"Ituloh git, jadi kita tuh dibagi jadi beberapa kelompok buat persiapan penampilan besok, tanggal 17 agustus." Jelas putri.

"Penampilan apa?" Gita masih bingung.
"Iya setiap kelompok tuh beda-beda, ada yang baca puisi berantai, main drama, trus ada juga musikalisasi puisi" lanjut putri.
"Ohh, trus Gita kelompok berapa ya?"
"Ehh gatau deh, coba aja lo cek grup kelas, soalnya file pembagian kelompok nya ada disitu"ujar putri.
"Ohh gitu, yaudah deh, nanti aku cek"

"Yaudah ya git, gue pengen balik lagi ke kantin, tas gue ketinggalan disana" ujar putri, yang kemudian berjalan keluar kelas dan kembali ke kantin.
"Oke"

----------
Aku kembali ke kursi tempat dimana aku duduk, lalu aku nyalakan handphone yang sedari tadi sengaja aku nonaktifkan, ketika aku ingin membuka kunci layar, ternyata disitu masih terpampang foto aku bersama rehan, pikirian ku kembali melayang, kemasa dimana kita saling sayang.

Huft, sudahlah, biarkan saja rehan ada dalam daftar isi kisah hidupku, yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara aku meneruskan kisah yang pernah haru.

----------
Kemudian aku tersadar kembali ke tujuan awalku buka handphone, lalu segera aku buka room chat grup kelas dan lihat nama-nama anggota kelompok ku.

Baru saja aku mau melupakan rehan, ternyata kenangan itu kembali hadir, bagaimana tidak, aku masuk kedalam kelompok yang menampilkan drama, sementara dulu 'drama' lah yang  menyatukan aku dan rehan.

Semoga aku bisa cepat melupakan nya.

Rangga

Ternyata benar, tuhan menciptakan dunia ini penuh dengan keseimbangan, karena walau hati masih dirundung kesedihan, ternyata ada saja orang yang mampu membuat hati sedikit tenang, lewat tatapannya, lewat ucapannya, lewat tingkahnya, yang tentu tak pernah ku lupa.

Ia adalah rangga, rangga itu ternyata lawan main ku dalam pementasan drama malam nanti.

----------
"Hari ini 17 agustus 2019, gue rangga, dengan ini menyatakan, bahwasannya aku mencintaimu erina gita, kamu mau kan jadi pacar aku?" ujar rangga, dalam pementasan drama malam itu.

Aku lihat dari tatapannya, sepertinya ada hal lain yang ingin ia sampaikan, seperti menyatakan cinta dengan kesungguhan, meski aku tau ini hanyalah sandiwara yang tak bisa disamakan dengan realita, tetapi yang jelas kelompok kami dapat menampilkan pementasan itu dengan baik dan acara itupun digelar dengan cukup sukses.

----------
Semenjak pementasan itu, aku jadi tertarik untuk mengenal rangga lebih jauh, tapi aku belum bisa memastikan, apakah aku sudah siap membuka hati untuknya, "ahh sudahlah, biarkan semua berjalan dulu"

----------
Hari itu aku sedang duduk di teras, aku lihat dari kejauhan ada rangga beserta teman-temannya sedang berjalan ke arah kostanku, "aku pikir-pikir, cukup lama aku dan rangga tidak mengobrol, bahkan aku bingung, mengapa sikap ia dikampus begitu dingin, tatkala berjumpa dengan ku, padahal hubungan kita baik-baik saja, bahkan ia sering menghubungi ku melalui pesan WhatsApp.

Jujur rangga itu orangnya lucu, dan dia mampu menarik perhatian ku, dan membuat ku tertawa lepas.

“Tapi kalo gue boleh jujur, lo tuh kurang kreatif tau git” seru rangga
“maksudnya gimana”
“iya kurang kreatif, masa senyum lo manis mulu, bahkan gue yakin, kalo lo lahir duluan, sebelum orang-orang nemuin zat pemanis, mereka akan menamai zat itu Gita, bukan gula, karena mereka terinspirasi dari senyuman lo itu " Jawab rangga.

Sedikit gombal memang, tapi sukses membuat aku senyum salah tingkah, dan aku suka, ia begitu jujur dengan perasaannya, aku sadar bahwa rangga sepertinya tertarik kepadaku, namun aku pura-pura tidak tau, aku ingin melihat usahanya yang lebih kerasa dalam medekatiku.

Perasaan yang Terungkap

Ternyata waktu dapat menguatkan dugaanku , terbukti rangga memang benar menyukaiku, aku tau kabar itu dari reza, teman dekat rangga.

Saat itu reza ingin pulang ke kostannya, lalu aku hampiri dengan maksud ingin menanyakan hal tentang rangga, yang membuat hatiku penasaran. Bukan tanpa sebab, karena  risa dan putri pun pernah bilang dan sepertinya telah membaca situasi bahwa rangga menyukaiku, jadi daripada aku salah dalam bersikap dan gr, lebih baik aku tanyakan dulu.

----------
Saat itu gita yang pada awalnya duduk diteras, berjalan menghampiri reza, yang hendak berjalan menuju kostannya
"Za, kamu buru-buru gak?"
"Ehh gita, kenapa git emangnya?" Tanya reza
Canggung sebenarnya, tapi apa boleh buat, aku sudah sangat penasaran.
"Boleh ngobrol sebentar gak?"
"Boleh kok"

----------
Disitu reza sedikit aku introgasi, kebetulan saat itu juga ada putri dan juga risa, dan merekapun jadi ikutan kepo bertanya soal rangga, entah itu hal yang baik atau tidak yang jelas ada penawar dari rasa penasaran ku yang sudah memuncak.

Reza menjelaskan, bahwasanya memang benar, kalau rangga itu tertarik kepadaku, namun reza bilang, bahwa rangga memang sulit menyatakan perasaannya secara langsung.

Aku bingung, setelah tau semuanya apakah aku harus senang atau justru bersikap biasa saja, karena hubunganku dengan rehan saja belum jelas, bagaimana mungkin aku bisa menerima rangga dengan tenang.

Sakit Hati

"Put, kayaknya aku minggu ini bakalan pulang ke jakarta deh, soalnya mama  lagi sakit" ujar gita
"Ohh, yaudah git, semoga mama lo cepet sembuh deh" jawab putri.
"Aamiin"

----------
Keesokan harinya aku pulang ke jakarta, ingin mengurus mama yang sedang sakit, sekaligus meminta kejelasan ke rehan perihal hubungan kita.

----------
"Nak, anter mama ke apotek yuk, mama mau tebus obat" ujar mama.
"Ohh, iyamah gita anterin"
Aku dan mama berjalan kaki ke apotek, karena memang jarak apotek tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar 200an meter.

----------
"Apotek kok rame banget ya mah, tuh lihat, antrian nya panjang gitu"
"Iya mau gimana lagi nak, sekarang kan emang lagi musimmya orang sakit"

Akhirnya aku dan mama menunggu di lobby. Sebetulnya aku sangat bosan menunggu, karena terkadang apa yang kita tunggu itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. 'seperti rehan'.

Pandanganku seketika dikejutkan dengan kedatangan rehan, ohh tidak-tidak, bukan hanya rehan, tapi perempuan yang sedang bersama rehan. Muncul pertanyaan dalam otak ku, "mungkinkah rehan sudah move on dan perempuan ini adalah pacar barunya? secepat itukah?"
Aku terus memperhatikan nya yang berjalan kian mendekat, dan rehan pun sadar atas kehadiran ku, kemudian ia berbicara ke perempuan itu, lalu datang menghampiriku.

Tiba-tiba rehan menghampiri ku, dan menariku ketempat agak jauh dari keramaian untuk berbicara empat mata.

"Siapa perempuan itu?"
"Kamu kenapa ada disini git, siapa yang sakit?" Rehan mencoba basa-basi mengalihkan perhatian
"Siapa perempuan itu?"
"Bukan kamu kan yang sakit?"
"Siapa perempuan itu?"
"Huft (menghela nafas panjang), dia nameera, pacar baruku"
"Hebat yah kamu, bisa-bisanya duain aku"

"Loh git, aku kaya gini juga karena keegoisan kamu kali, kamu kan yang bilang gak bisa ngelanjutin hubungan kita, dengan alasan gak bisa ldr, padahal udah aku yakinin" jawab rehan.
"Tapi kenapa kamu gak mutusin aku" jawab gita.
"Kamu aneh git, kamu kan yang ninggalin aku, kamu egois dengan pilihan kamu" tegas rehan.
"Tapiii" seketika omongan gita dipotong langsung, dan rehan sudah tampak emosi.

"Apalagi sih, udahlah, lupain aja, cari aja gih pacar baru disana, gausah lo berharap lagi sama gue, lo bahagia dengan pilihan lo, biar hidup gue jadi pilihan gue sendiri, udah ya git, gaenak sama nameera" tegas rehan. Baru saja berbalik dan berjalan satu langkah, kemudian rehan kembali mengalihkan pandangannya kepadaku dan berkata.

"Ohh iya satu lagi, sekarang lo ngerasain betapa sulitnya jalan untuk mencintai, karena kebenaran itu bersembunyi dalam kegelapan"

Lalu rehan meninggalkan gita, yang masih tak menyangka, bisa-bisanya rehan berbicara seperti itu.

----------
Hari itu, hatiku sangat hancur, di satu sisi, sepertinya memang benar semua ini karena aku yang terlalu egois dan tidak percaya, disisi lain apakah begitu cara rehan membalasnya, padahal kalo diingat-ingat, hubunganku dengan rehan sudah berjalan hampir 5 tahun, tapi berakhir dengan cara seperti ini.

Kesedihan yang Tak Terkira

Semenjak kejadian di apotek itu, aku baru tersadar bahwa cinta ini tak selamanya hadir untuk memberi rasa bahagia, karena adakalanya cinta membawa duka, dan apa yang dikatakan rehan saat itu terus terngiang dipikiran ku.

"sekarang lo ngerasain betapa sulitnya jalan untuk mencintai, karena kebenaran itu bersembunyi dalam kegelapan"ucap rehan kala itu.

Namun aku akan buktikan bahwa cinta akan menemukan jalannya sendiri, dan cinta yang suci nan sejati, tak akan hadir untuk merobek hati, tapi datang dengan keindahannya sendiri.

----------
"Git, lo gpp kan? Tanya risa, sambil memeluk gita.
"Aku gpp kok, lagipula masa lalu itu kan bisa jadi pelajaran untuk hidup di masa depan?" Jawab gita, yang air matanya kini mulai berjatuhan.
"Tenang aja git, udah ada rangga tuh, yang siap isi hati lo" celetuk putri.
"Nah bener tuh" sambung risa.
Mendengar ucapan seperti itu gita nelepas pelukan risa dan menghspus air matanya, dan berkata, 

"Ihh apasih kalian, kayaknya aku mau sendiri dulu deh, aku belum siap kalau harus dekat lagi sama orang lain. Aku kaya gini bukan karena aku gagal move on, justru aku lagi introspeksi diri" jawab gita dengan yakin.
"Ohh yaudah kalo gitu git, gue mah cuma bisa berdoa dan mendukung keputusan lo, pokoknya gimana baiknya ajalah" jawab putri.

Salah paham

"Put, kamu punya kenalan orang yang jago nulis cerpen gak? Soalnya aku butuh banget nih, pengen belajar." Tanya gita, yang pada saat itu tengah berada di kantin bersama risa dan putri.
"Hmm, siapa ya kira kira... Ada sih git, cuma kakak tingkat gitu deh, emang gpp? Lagipula bukannya lo punya buku tata cara menulis cerpen? Ujar putri.
"Iyasih, cuma buku itu aku pinjemin ke rangga, dan kayaknya rangga belum selesai deh, soalnya kan dia juga lagi nulis cerpen gitu..." Jawab gita.

"Yaudah kalo gitu, lo hubungin aja kak hasan, kayaknya dia bisa deh bantu lo"jawab putri.
"Iya tuh bener, diakan udah berpengalaman" sambung risa, yang sedari tadi fokus makan bakso.
"Ohh yaudah deh kalau gitu, nanti aku hubungin" jawab gita.

----------
Tanpa membuang-buang waktu, aku coba buat hubungi kak hasan, dan dia meminta ku buat menemuinya di pelataran gedung kampus, dan tentu saja aku segera kesana.

Suasana kampus sangat ramai, wajar, karena saat ini waktu menunjukkan pukul 16.00 dan banyak mahasiswa yang telah selesai menjalani proses perkuliahan hari itu, mereka bergantian berjalan menuruni tangga gedung dan banyak juga berlalu lalang di jalan utama menuju gerbang pintu keluar.

Saat kak hasan mulai menerangkan bagaimana caranya menulis cerpen dengan benar, pandanganku justru teralihkan melihat rangga beserta teman-temannya yang hendak pulang, "sudah cukup lama aku tidak melihat rangga, seperti nya dia menghindari ku, tapi apa sebab dia menghindar seperti itu?" Berbicara dalam hati.

Dan saat itupun sepertinya rangga sadar atas kehadiran ku yang tengah duduk berdua bersama kak hasan, dan aku pun berusaha untuk tidak terlalu intim dan tetap kembali ke tujuan awalku untuk sekedar belajar menulis cerpen.

Tapi nampaknya, ada perasaan cemburu yang datang menghampiri nya, namun akupun tak tau harus berbuat apa, tapi yasudahlah, "memang aku siapanya, dan belum tentu juga dia beneran cemburu, pokoknya aku gamau ke gr-an dulu"

----------
Sudah 3 hari aku tak melihat rangga, sepertinya benar, dia sengaja menghindar, padahal baru saja aku menemukan orang yang mungkin bisa membuat ku kembali bahagia penuh canda tawa. Tapi ternyata hanya fana, dan sulit menjadi realita.

Ironi sang pengagum jarak - Lembaran Baru Mengubah Coretan Masa Lalu

Pada malam ini, sepertinya bulan sengaja menampakkan dirinya untuk menjadi saksi cinta yang sempurna, dan burung-burung pun saling bersahutan, sebagai tanda, cinta yang bermekaran.
Handphone ku berdering, dan setelah aku cek notifikasi, ternyata rangga yang mengirim pesan.

"Kamu tau aja, kalau aku sedang rindu, rindu akan gombalanmu" bicara dalam hati.

Lalu aku balas pesan tersebut dan kami mengobrol sangat singkat, karena memang tak ada topik lain yang ingin dibicarakan.

Ia menanyakan perihal cerpen yang aku buat, tentunya aku sangat senang melihat sikap dia yang seperti sudah tidak salah paham lagi terhadapku, karena terbukti dia kembali menghubungiku.

----------
Keesokan harinya, karena ia telah berjanji ingin memberikan cerpen yang ia buat, maka aku temui dia untuk mengikis rasa penasaran ku tentang cerpen tersebut. 

Pertemuan itu sangat sebentar, dan sepertinya rangga salah tingkah, jika ku perhatikan gerak-geriknya, apa mungkin hal itu karena rangga jatuh cinta kepadaku? Sudahlah, Biarkanlah waktu yang menjawab.

Setelah menerima lembaran cerpen itu, ada secarik kertas yang sengaja diselipkan diantara lembaran itu, aku pikir itu kertas punya rangga yang tertinggal, namun setelah aku baca, ternyata itu adalah sebuah surat, yang ditujukan untuku, kemudian aku baca surat itu yang isinya begini:

Untukmu erina gita,

Kau tau gita, aku ini menyimpan rasa yang sampai saat ini tidak dapat didefinisikan dengan sempurna, rasa itu cuma dapat kurasakan namun sulit jika berfikir untuk diucapkan. 

aku memang tak pandai menunjukkan cinta ini, aku hanya menyimpannya dalam lembaran-lembaran rahasia yang jauh dari dunia.

Mencintai dari balik layar.
Kau tau gita, bahwa warna putih itu tidak akan pernah bisa menjadi warna yang lebih dominan, jika saja tidak ada warna hitam yang selalu membayanginya, dan rasa itu tidak akan pernah tersua, jika saja kita tak pernah berjumpa.

Mungkin kamu hanya akan menjadi impianku, tapi yang jelas, mimpi itu fiksi, jadi biarkanlah aku bermimpi setinggi langit, karena yang terpenting  adalah bukan mimpinya, tapi bagaimana cara kita merealisasikan itu semua.

Jadi izinkanlah aku untuk membuktikan kepadamu rasa yang sudah terlanjur hadir dalam kehidupanku.
I Love You

Rangga, 17 Oktober 2019

----------
Aku terkejut setelah membaca surat dari rangga, jantungku berdegup lebih cepat, "apakah ini tanda, bahwa kisah cintaku terlahir kembali dalam realita?"

----------
Malam harinya, aku berulang kali membaca surat dari rangga untuk memastikan semuanya, dan akupun semakin penasaran untuk membaca apa yang rangga tuliskan dalam cerpennya.

Dan benar ternyata akulah yang menjadi peran utama dalam ceritanya, dan tak hanya itu, cerpen itu seperti curhatan hati rangga yang selama ini tak pernah kusangka.

Di akhir tulisannya ada sebuah puisi yang judulnnya pengagum jarak.

Pengaggum Jarak

Ku pikir menatapmu dari kejauhan
Akan membuatku tenang menjalani hidup
Mencintaimu dari balik layar
Adalah salah satu keberanian yang ku punya

Seringkali aku harus mengikhlaskan rindu yang jatuh bersama hujan
Jatuh tak bertepi, mengalir bersama senyuman
Aku harus berjalan mundur selangkah demi selangkah
Sampai kau tak pernah terganggu oleh kehadiranku

Kau tau aku berdiri menatapmu dari jauh
Memberimu ruang tersendiri disudut hati yang hampa ini
Namun, kau hanya mampu menatap tanpa menghampiri
Mungkin jarak ku terlalu jauh hingga kau tak pernah mengenaliku

Aku adalah pengagum jarak
Hanya mampu mencintai tanpa harus memiliki
Bukan, ini bukanlah hal bodoh yang mereka fikirkan
Ini hanyalah sebuah rasa yang tak bisa mereka rasakan

----------
Setelah membaca semua yang diberikan rangga, rasanya aku begitu bodoh, karena tidak sadar dan hanya menduga, bahwa rangga hadir membawa cintanya.


Kutuliskan cerita cintamu dalam lembaran baru hidupku

7 hari setelahnya, hubunganku dengan rangga semakin dekat, namun belum ada tanda-tanda bahwa rangga ingin mengulang kata-katanya yang di tuliskan dalam surat kala itu, "apakah harus aku yang bertanya soal kepastian hubungan kita?"

Tapi tak apalah mungkin memang belum saatnya, yang terpenting sekarang aku bisa dekat dengannya.

Dan aku terus menunggu kelanjutan cinta dari rangga, apakah cintanya total, dan menunjukan kalau hal itu sakral, atau justru batal karena semua itu gombal, yang tak berakal.
Related Posts
Naufal Al Rafsanjani
Sekedar mahasiswa yang punya impian sempurna, menginterpretasi kejadian nyata ke dalam tulisan yang bermakna.

Related Posts

Posting Komentar