UYmJLCizCo2ZTQJP06dFQPoA3AYXIznXlgFMCQ7t

Cerpen Pengagum Jarak (Bayangan yang Setia)

"Bukan, ini bukanlah hal bodoh seperti yang mereka fikirkan. Ini hanyalah sebuah rasa yang tak bisa mereka rasakan."

Buat kalian yang mau mendownload cerpen ini sebagai pdf, silahkan klik DOWNLOAD Selamat membaca....


Pengagum Jarak


Prolog
Bisa lulus tes dan masuk Perguruan Tinggi Negeri itu adalah impian hampir setiap orang, berapa banyak orang yang gagal dan terpaksa mengurungkan niatnya untuk berkuliah, maka dari itu gue bersyukur bisa diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Banten.

Menoleh ke kanan dan kiri, dengan penuh kebingungan, sampai akhirnya ada  perempuan yang menghampiri,
“Mau kemana dek, kok kaya orang bingung gitu sih”
Dengan canggung gue menjawab
“Kalo tempat untuk daftar ulang dan tes kesehatan dimana ya kak ?”

Lalu kemudian perempuan itu menunjuk ke arah gedung yang berdiri kokoh,
 "Itu disana tuh, kamu liat kan gedung yang berwarna ijo itu?”
“Ohh, makasih ya kak.”

Tanpa buang waktu gue bergegas ke gedung itu dan menunggu giliran untuk dipanggil, karena jujur saja, suasana saat itu sangat ramai, wajar, namanya juga daftar ulang pendaftaran, sekaligus tes kesehatan, dan tentu saja banyak mahasiswa baru yang berbondong-bondong memenuhi gedung itu.

Benar kata orang, bahwa menunggu itu adalah hal yang sangat membosankan, terlebih jika hal yang ditunggu itu menuai ketidakpastian.

“Hmm melelahkan sekali, semoga hal ini cepat berlalu lah” bergumam dalam hati, sambil duduk ditemani secangkir kopi. Pandangan gue justru tertuju ke mahasiswa yang berlalu-lalang, mereka terlihat tanpa beban melewati hari demi hari di bangku perkuliahan, mereka tak sadar bahwa merekalah calon-calon pengangguran dimasa depan, yaa walaupun gue sendiri juga termasuk salah satu bagian dari mereka sih “hahahaha”.

Tiba tiba pandangan gue teralihkan memperhatikan gerak-gerik perempuan berkerudung yang ada di gedung sebrang,
“mungkin tuhan sengaja mentakdirkan gue kuliah disini, biar bisa bertemu dengannya, dan gue yakin, cepat atau lambat, pasti akan mengenalnya, karena yang gue tau, hari ini adalah jadwal daftar ulang untuk para mahasiswa baru Fakultas Keguruan,, yang artinya orang itu juga kuliah di fakultas yang sama kaya gue.

Hari demi hari gue lewati dengan penuh kegembiraan, mempunyai teman baru dan kesibukan, hal itulah yang justru membuat gue semakin penasaran tentang dunia perkuliahan, ditambah ada dia, yang kini buat hidup gue jadi berwarna, ya walaupun sih, udah jarang banget gue liat batang hidungnya.

Awal Perkuliahan
Gak gue sangka waktu begitu cepat berlalu, tepat ditanggal 12 agustus 2019, kegiatan perkuliahan mulai berlangsung, di minggu pertama semua dosen sepertinya kompak, untuk melakukan perkenalan dan menjelaskan tentang kontrak mata kuliah saja.

“Halo semua, perkenalkan, nama gue rangga, gue asalnya dari Jakarta, dulu sih gue sekolah jurusan multimedia, walaupun gak relevan sama jurusan yang gue pilih sekarang, tapi gue yakin ini bagian daripada rencana tuhan. Oh iya gue ini anak pertama dari dua bersaudara, salam kenal yah."
Itulah cara gue memperkenalkan diri didepan kelas.

Jujur sebenernya gue ini orangnya pemalu, bisa dibilang sih kurang percaya diri, apalagi di depan perempuan yang gue suka, mana pernah gue sok cari perhatian, bahkan buat negornya pun enggan.

Walaupun gue sempet berpikir, mumpung gak ada yang kenal yaudahlah sekalian merubah diri gue, jadi gue yang percaya diri, namun akhirnya pun gue tersadar, kebahagiaan yang sesungguhnya itu ketika gue mampu hidup sederhana apa adanya, bukan menjadi sosok yang penuh pura-pura.

Berkenalan Dengannya
17 Agustus 2019, hari ini anak-anak himpunan membuat suatu kegiatan, menginap di suatu tempat, yang inti acaranya sih sebagai ajang keakraban, sekaligus persembahan mahasiwa baru, beberapa dari kami dikumpulkan dan dibagi menjadi beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok harus memberikan persembahan penampilan yang berbeda, ada yang baca puisi berantai, bermain drama, gurindam, sampai musikalisasi puisi.

Bener ya kata orang, kalo emang rezeki tuh gak akan kemana. Tau gak sih orang yang selama ini gue cari-cari, ternyata satu jurusan sama gue, dan yang bikin gue gak nyangka, ternyata dia satu kelompok sama gue.

Kalau boleh gue diskripsiin sih orangnya itu berkrudung, warna kulitnya putih, penampilannya juga enak buat diliat dan yang paling bikin gue suka itu, senyumannya, yang bisa bikin hati jadi meleleh, Erina Gita, nama yang indah untuk perempuan yang rupawan, dia lahir di Jakarta dan sama kaya gue, kesini merantau untuk berjuang demi masa depan.

Hari ini gue dan temen sekelompok mulai sibuk latihan, buat persiapan penampilan acara malam nanti, walaupun melelahkan, tapi gue tetep semangat, karena bisa liat dari dekat.

Daripada gue penasaran, akhirnya gw beraniin diri buat samperin dia, yang pada saat itu sedang duduk di pelataran kampus, sambil sibuk hafalin naskah drama.

“Sibuk banget kayaknya” sedikit basa-basi
“iyanih, kan kelompok kita nanti malem tampil kedua, kamu emang udah hafal?” jawab Gita.
“hmm, belom sih, tapi tenang aja, pasti inget kok, oh iya, lo kayanya udah sering ya main drama, soalnya gue liat, lo serius banget hafalin naskahnya ?”
“iya dari jaman SMA, aku udah sering nampilin drama”
“ohhhhh, gak cocok dong yah gue jadi peran utama, soalnya lawan main gue berpengalaman”
“ahh gak juga kok, aku juga masih belajar, dan kamu pasti bisalah, gampang kok”

Iya gampang, apalagi lo yang jadi lawan main gue, jangankan jadi peran utama di drama, gue juga siap kok jadi peran utama dalam hidup lo. (Berbicara dalam hati)
yaudah kalo gitu, gue kesana dulu yah”

Jujur gue baru sadar, bahwa emang bener ungkapan dari mata turun ke hati itu  terbukti, karena itulah yang gue rasain saat ini, walaupun gue juga gak yakin sih dia mau sama gue.

Melihat dari kejauhan
Acara persembahan kemarin digelar sangat meriah, dan gue seneng, pernah satu kelompok sama dia, walaupun setelahnya harus berpisah dan sangat disayangkan gue gak sekelas sama dia, jadi susah buat pdkt.

Seiring berjalannya waktu, hubungan gue sama dia justru semakin renggang, gue udah gak pernah lagi dapet kesempatan ngobrol berdua, bahkan gue pun mulai canggung buat sekedar menyapa.

Yang gue bisa sekarang Cuma melihatnya dari kejauhan. Meski perasaan ini gak pernah sedikitpun berubah, tapi sepertinya, mencintainya dari balik layar adalah pilihan yang paling tepat.

Ingin rasanya mengulang semuanya, ke masa dimana, kita saling tegur dan sapa, gue sadar bahwa situasinya udah beda sekarang, lo udah punya temen baru yang lebih asik, yang mungkin bisa buat lo ketawa setiap hari, tapi gapapalah setidaknya gue bisa melihat lo dari kejauhan, dan mengikhlaskan rindu yang jatuh bersama hujan, terus mengalir, mengalir bersama senyuman.

Mencoba Menghubunginya
Duduk di depan meja belajar, memutar-mutar handphone, sambil melihat keluar jendela, memandang langit yang dihiasi oleh bintang, dan meratapi  hati atas kehampaan.

Benar apa yang dikatakan dilan, bahwa rindu itu berat, terbesit dalam pikiran, “apa gue hubungan aja ya, siapa tau dijawab. Gue telfon atau chat yah... chat ajalah, takut ganggu kalo telfon”
“Hai Gita, apa kabar”.

Gue resah karena dia lama banget bales chatnya, padahal online, setelah 30 menit menunggu, handphone gue akhirnya berdering, bukti notifikasi pesan masuk dan akhirnya  dia bales pesan gue.

“Alhamdulillah baik, ada apa ya?” Jawab Gita
“Ohh enggak, iseng aja gue hubungin lo, emang lagi sibuk ya?”
“Enggak juga sih, lagian tumben banget, tiba-tiba kamu hubungin.”
Gue tersenyum.
“Iya tadinya mau nanya soal tugas, Cuma gajadi, udah keburu selesai, hehehe”
“Ohh maaf ya telat”
“iya gpp kok"

Meski percakapan itu sebentar, yang jelas gue seneng dia mau respon chat gue.

Stalking
Buat orang-orangyang kurang percaya diri kaya gue, tentunya rada ribet kalau harus ngobrol panjang lebar sama orang yang kita suka, oleh karena itu, biasanya setiap ada perempuan yang menurut gue, dia itu beda dari yang lainnya dan buat gue tertarik, maka hal yang pertama kali gue lakuin adalah stalking semua akun sosial media yang dia punya, sampai gue dapet informasi yang gue butuhin.

Dan di fase inilah terkadang ada keadaan dimana gue mulai lelah, karena enggak semua keinginan kita itu sesuai dengan realita, dan dalam beberapa kasus, gue justru malah suka sama orang yang ternyata udah memiliki pasangan.

Gue sadar sih, gue ini bukan tokoh fiksi yang dikarang pidi baiq, dalam novel best seller, gue juga gak pandai buat ngerebut pacar orang, karena yang gue bisa Cuma memastikan bahwa dia tetap bahagia.
Terkadang gue berfikir, apakah gue harus berjalan mundur, selangkah demi selangkah, sampai lo gak pernah terganggu atas kehadiran gue ?

Jejak Rasa yang Terus Menjadi Rahasia
Rasanya sudah ratusan kali gue memperhatikannya, dan sudah ribuan kali gue berfikir untuk sekedar bilang, “Gita, kalo gue boleh jujur, gue tuh sebenernya suka sama lo dari awal kita ketemu.” Tapi nyatanya hal itu susah banget buat gue ucapin di depan dia.

Mungkin benar, bidadari seperti dia itu cuma akan menjadi bayangan dalam hidup gue, yang cuma bisa gue lihat, tapi sama sekali gak bisa gue genggam.

Usaha Lebih Keras
Hari ini jadwal kuliah cukup renggang, dan biasanya kalo udah begini, gue mampir dulu ke kostan temen, yang kebetulan kostan temen gue itu deketan sama kostan Gita, makanya gue semangat banget.

Dan bener aja, dari kejauhan gue liat Gita lagi duduk santai di depan teras kostannya.

“Itu si gita ngga, ajak dia ngobrol lah, mumpung lagi santai tuh, jangan jadi pengecut mulu kenapa sih.” Ledek reza
“Bukannya gue pengecut, gue cuma bingung aja, harus ngobrol apa” jawab (rangga).
“itumah gausah dipikirin, pokoknya kalo lo bisa ngendaliin suasana juga, dia pasti bakalan respon dan penasaran kok, bahkan pengen lama-lama ngobrol sama lo nya."
“iyasih, yaudahlah, gue duluan yah mau nyamperin Gita dulu.”
“Good luck ngga, semoga berhasil.”

Perlu diketahui, kostan Reza itu letaknya beda satu blok dengan kostannya Gita, dan kalau mau ke kostan Reza pasti melewati kostan dia, bidadari gue.

Selangkah Lebih Dekat
“Hai Gita, lagi nyantai yah, emang gak ada kelas lagi?”
“Ehh Rangga, iya nih lagi nyantai, soalnya dosennya gak masuk kelas, kamu mau kemana, kok lewat sini?”
“Mau kekostan Reza sih, tapi kayanya enakan mampirnya kesini”
“Bisa aja kamu, kostan Reza yang di blok sebelah kan ya?”
“iya”

Setelah itu, justru suasana hening selama lima menit, karena gue sendiri bingung, apa yang harus gue omongin, gue sama sekali gak punya bahan obrolan, sampai pada akhirnya Gita nanya ke gue.

“Kenapa kamu pilih kuliah disini ngga?”
“Ya gapapa, biar ketemu kamu aja”
“Hahaha, bisa aja kamu mah, aku serius tau?”
“Sebenernya sih, gue males kuliah, bahkan pas SBMPTN pun gue gak belajar, tapi karena mungkin emang udah rezeki, akhirnya gue keterima disini, dan yaudahlah, daripada gue harus kuliah swasta, lebih mahal, gue mana punya biayanya.”
“ohh gitu, iyasih aku juga mikirnya gitu”
“lo kayanya minat banget ya masuk Bahasa Indonesia?”
“ihh, siapa bilang, aku sebenarnya juga kecebur tau, tapi aku yakin sih inilah jalan terbaik buat aku
“Tapi kalo gue boleh jujur, lo tuh kurang kreatif tau gita"
“maksudnya gimana”
“iya kurang kreatif, masa senyum lo manis mulu, kapan pahit nya? Hahahaha.”
“Ihh bisa aja”
“Bahkan gue yakin, kalo lo lahir duluan, sebelum orang-orang nemuin zat pemanis, mereka akan menamai zat itu Gita, bukan gula, karena mereka terinspirasi dari senyuman lo itu”
“Ihh kamu mah gombal, emang anak-anak bahasa Indonesia itu pada jago gombal”
“lohh gw serius tau, yaudah git, gue ke kostan reza dulu yah, sampe nanti”
“Iya, makasih ya rangga, udah nemenin aku ngobrol”

Jujur obrolan itu adalah salah satu obrolan yang paling bersejarah dalam hidup gue, karena bisa-bisanya gue berani ngobrol bahkan bilang hal kaya gitu ke gita.
Rasanya sore ini terasa lebih manis, bisa lihat dia dari dekat, dengan senyuman yang seolah-olah mengikat, jadi layak kalo itu disebut Senyuman Bidadari. Maka sejak saat itulah, dia, Erina Gita gue nobatkan dalam hati, sebagai bidadari.

Sering Berkabar
Setelah pertemuan kemarin, antara gue dan gita jadi sering berkabar, seneng sih rasanya, Cuma gue gamau GR dulu deh, karena yang gue tau itu, Gita emang ramah ke setiap orang.

Meski akhir-akhir ini sering berkabar, tapi obrolan yang dibahas itu kebanyakan tugas, jadi gak ada sangkut pautnya sama kelanjutan hubungan gue sama dia, dan gue pun udah janji sama diri gue sendiri, buat rahasia-in perasaan ini.

“Gita, lo punya punya buku langkah-langkah menulis cerpen yang baik dan benar gak?”
“Ada kok, kenapa emangnya?”
“Boleh pinjem gak? Soalnya gue butuh banget nih buat bikin cerpen”
“Kamu emang mau bikin cerpen tentang apa?”
“Ada deh, nanti juga kamu baca”

Rahasia yang Terungkap
Pagi ini nampaknya cuaca kurang bersahabat, mentari pagi sepertinya enggan untuk menunjukan cahayanya, karena kabut hitam masih konsisten menutupi, dan entah kenapa pagi ini gue kurang bersemangat buat datang ke kampus.

Lagi-lagi gue harus nunggu, kali ini giliran dosen yang gue tunggu.
“Rangga, Bu Rere masuk kelas gak sih? Kok gak muncul-muncul” Tanya Roni
“Yeh, mana gue tau, dosennya belum ngabarin gue ron, yaudah sih sabar aja biasanya juga lo pada seneng kan, kalo dosen gak masuk”
“Iyasih, hehehe”
“Rangga, Push Rank yok, udah lama nih gamain” ajak reza
“Ayo deh, daripada gue bosen nungguin hal yang gak pasti”

Namun ketika gue rogoh kantong dan mengambil handphone, gue  justru liat ada notifikasi chat masuk dari Gita.

“Ngga, kata si Reza, kamu sering cerita-cerita soal aku ya ke temen-temen kamu?"
“Hah, enggak kok”
“Reza juga bilang, kalo kamu namain aku Bidadari di handphone kamu kan?”
“Sumpah deh gue masih gak ngerti, mungkin Reza salah liat kali”
“Aku juga simpen kok screenshot Hp kamu yang bisa buktiin omongan aku”
“Itu kesalahan teknis kayanya, udah sih gausah bahas itu, gak penting.”
“Tapi bener?” Gita makin menyudutkan.


Jujur pada saat itu gue juga bingung harus gimana, rahasia yang selama ini gue simpen rapet-rapet malah justru kebongkar, dan kenapa harus kebongkar dengan hal sepele gini sih.

Dan akhirnya gue beraniin diri buat ngomong jujur dan bongkar semuanya,

“Iya, apa yang ada dibilang reza itu bener gita"
“Lucu deh, kenapa nama Gita diubah?”
“Ya gpp, biar ditanya aja”
“Kamu mah bercanda mulu”
“Emang kalo gue serius itu harus gimana dan kalo bercana juga gimana, gue tau kok, walaupun gw serius, pasti juga lo anggapnya bercanda”
“Ihh gak gitu tau”
"Yaudah git, sorry ya"
"Santai aja kali ngga"

Usai percakapan itu, gue sendiri mikir, sebenernya apa yang gue lakuin ini, apa udah bener? Entahlah, yang jelas saat ini gue merasa malu banget, dan gatau deh gimana jadinya kalo sampe ketemu dia dikampus, mau ditaro mana muka gue.

Menghilangkan Rasa
Besok paginya di ruang kelas, pikiran gue justru gak tenang, gue ngerasa gak mood aja kuliah hari ini, tapi yaudahlah mau gimana lagi, udah terlanjur.

"Ehh liat deh, itu si rangga kenapa ngelamun gitu za, ada masalah apaan emangnya?" Tanya Roni.
"Ohh, palingan juga urusan cewe" jawab reza
"Sejak kapan si rangga punya cewe? Kok gue gatau ya." Roni heran.
"Emang kalo dia lagi deket sama cewe, harus bilang ke lo dulu gitu?" Ujar reza.
"Ya enggak sih, siapa tau gue bisa bantu yakan"
"Lo mah emang dasarnya buaya ron" celetuk bagas yang saat itu duduk di bangku tepat dibelakang reza,  yang rupanya daritadi memperhatikan obrolan reza dan roni.
"Kurang ajar ente" balas roni"Hahahaha"

Roni yang sedari tadi berdiri di depan reza yang sedang duduk, kini mendekat kearah gue.

"Woi rangga, ente kenapa, daritadi bengong aja, kalo bengong mulu cepet mati lo?" tanya roni dengan nada yang sedikit meledek.
"Sialan lo ron"
Reza dan bagas pun berdiri dari kursinya dan mendekat juga kearah gue.
"Udah si ngga, slow aja, gausah dibawa pusing" seru bagas.
"Udahlah gausah dibahas lagi, males gue" jawab rangga
“Payah ahh” Celetuk Roni.
“Yaudah ron, gas, jangan ganggu rangga dulu mending” Reza mencoba mengerti
“Yaudahlah, mending push rank aja za kitamah” tawar roni.
“Nah bener tuh” jawab bagas.

Gue sendiri bingung, kenapa setelah semuanya kebongkar perasaan gue jadi gak enak, apa gue lupain aja ya… ah udahlah, gue gausah mikirin lagi, toh belom tentu juga gita bakalan anggap itu serius.

Dekat Dengan yang Lain
Siang ini nampaknya matahari sangat menunjukan wibawanya, bahkan awan pun enggan menghalanginya, huhh panas.

“Za hari ini gue nginep dikostan lo dulu ya?” berbicara ke reza
“Alah, itumah akal-akalan lo doang kali ngga, biar bisa lewatin kostanya Gita” Seru roni.
“Gue ikut dong za, males gue pulang kerumah, mumpung besok libur”
“Tumben-tumbenan lo gas, mau ikut."
“Ehh bentar-bentar, itu bukannya sih gita ya, lagi sama siapa tuh, keliatannya akrab banget” ujar reza, sambil menunjuk kearah pelataran gedung.

Mendengar nama gita disebut, seketika pandangan gue tertuju pada sepasang manusia yang tengah duduk di pelataran gedung kampus.

“Rangga… rangga... baru juga kemaren pdkt, ehh sekarang udah ditikung aja sama kakak tingkat.” Roni Menanggapi.
“Kisah cinta lo emang tragis ngga, gak bisa kaya gue berarti” tambah bagas.
“udahlah biarin aja, emang gue siapanya, sampe berhak cemburu ngeliat dia dekat sama yang lain”

Sejujurnya melihat dia duduk berdua dengan kakak tingkat, itu udah cukup buat hati gue jadi teriris, sakit rasanya, seandainya lo tau apa yang gue rasain sekarang git.

"Yaudah za, ayolah buruan ke kostan lo, gue pengen rebahan, capek banget gue" (rangga).
"Lo capek apa panas ngga, liat dia sama yang lain, hahahah" celetuk roni.

Males banget gue nanggepin omongan roni, daripada makin mati gaya, mending gue jalan duluan ajalah.

"Yaudah za gue jalan duluan ya""Ehh tunggu gue ngga, selow aja kenapa sih" seru reza.

Sesampainya di kostan reza gue ambil secarik kertas, kemudian gue tulis satu bait puisi,

“Kau tau, aku berdiri menatapmu dari jauh, memberimu ruang tersendiri disudut hati yang hampa ini. Namun kau hanya mampu menatap tanpa menghampiri, mungkin jarak ku terlalu jauh, hingga kau tak pernah mengenalku.”

Dalam hati gue berbisik pada diri, “udah lah ngga, gausah dipikirin, lagipula masih banyak kok cewe di dunia ini, masih banyak bidadari-bidadari lainnya, masalah senyuman saat itu, lupain  aja.

Kecewa
Sejak saat itu, gue berencana menutup hati, dan membiarkan si bidadari itu pergi, mungkin bidadari itu terlalu sempurna buat gue bisa singgah dihatinya, dan gue rasa si Hasan (kakak tingkat) itu lebih cocok ketimbang gue, secara dia itu terkenal dikampus, berprestasi lagi, pokoknya gue harus move on lah secepatnya.

Sehari, dua hari, gue coba buat ngindar darinya, tapi gue rasa itu sia-sia, karena semakin gue ngindar, maka semakin kuat pula rasa yang gue pendam ini, dan gue pikir buat apa juga gue jauhin dan bohongin perasaan, biarin lah semua hal ini ngalir.

Rasa kecewa itu ternyata gak cuma sekali, tapi berkali-kali, apalagi ketika melihat dia deket sama yang lain, dan bodohnya gue, gue justru malah jadi sulit ngomong, ketika bertemu dia, bahkan kata sapaan aja jadi sulit diucapkan, aneh banget diri gue ini.

Klarifikasi
Gue gamau perasaan ini jadi gak karuan gini, dan pada akhirnya bagas nyaranin gue buat coba ngobrol sama sahabatnya, putri namanya. Gue coba nanya-nanya soal gita, dan pada intinya sih, inti pertanyaan gue itu mengkerucut ke gita yang akhir akhir ini gue liat sering ngobrol sama kakak tingkat, dan sebenernya hubungan mereka berdua itu apa.

Walaupun sebenernya beresiko, karena gue malah ngebongkar rahasia gue sendiri ke orang lain, tapi gue pikir, yaudahlah udah terlanjur lagian juga.

Gue janjian sama putri, terus gue tanyain semua keresahan gue tentang gita, dan putri pun ngejelasin semuanya dari awal secara detail, gue menyimaknya dengan serius dan pada akhirnya gue jadi tau, Gita itu gak punya hubungan apa-apa sama kakak tingkat itu.

Putri bilang, akhir-akhir ini gita lagi serius buat nulis cerpen, makanya dia sering hubungin hasan buat sekedar minta saran.
Oalah, perasaan gue jadi lega sekarang, gue jadi punya semangat lagi buat terus ngejar cinta dia, walaupun dengan cara bergerilya, tapi aneh juga yah, gue minjem buku tentang tata cara menulis cerpen ke dia, eh dia malah minta ajarin sama orang lain, kenapa gak minta aja buku yang gue pinjem ini ya, tapi yaudahlah, biar nanti gue coba tanyain.

Menghubunginya lagi
Dalam keheningan malam, ditengah terangnya rembulan, gue coba untuk menghapus kata kecewa dalam hati yang sempat tegak berdiri, dan membangun kembali rasa untuk si bidadari, dengan balutan cinta sejati.

"Hai gita...."Gue kirim pesan singkat ke gita, yang kebetulan saat itu tengah online, tak menunggu lama pesan gue pun dibales.

"Iya rangga, ada apa?"
"Gue denger dari putri, lo lagi nulis cerpen juga ya?"
"Iya, tapi belum selesai sih,"
"Tentang apa git, kalo boleh tau"
"Ada deh, nanti juga kamu tau, Justru kamu tuh, mana cerpen yang kamu buat, kok aku gak dikasih sih." seru gita.
"Hehehe, omongan gue malah dibalikin loh"
"Hahaha, iyalah"
"Lo serius mau baca, cerpen buatan gue?"
"Iya dong, aku penasaran pengen baca" jawab gita.
"Tapi jangan kaget ya..."
"Emangnya kenapa?" Jawab gita dengan penasaran.
"Besok deh aku kasih"
"Okedeh, jangan lupa ya ngga"
"Oke, siap"

Gue seneng banget, ternyata dia mau baca cerpen gue. Tapi apa jadinya ya, kalo sampe dia sadar, kalo cerpen ini adalah cerita sempurna dari sang pengaggum jarak tentang dia, tapi itumah urusan nanti, lagipula cerpen ini kan fiksi, gak semua itu realita.

Sang Pengaggum Jarak - Bayangan yang setia
"Ini cerpennya, dibaca ya git"
"Wahh, jadi penasaran nih, makasih ya !" seru gita
"Maaf ya"
"Loh maaf kenapa' jawab gita.
"Gpp, yaudah ya, gue balik duluan"


Tanggapan gue tentang bayangan itu salah, mungkin memang dia itu seperti bayangan hanya bisa dilihat namun tak bisa digenggam, jadi kalau begitu gue ajalah yang jadi bayangan.

Iya bayangan, bayangan yang selalu menunjukkan kesetiaan nya meski sering diabaikan dan dipandang sebelah mata.
Gue jadi inget sebuah buku yang di adopsi jadi film yang menceritakan tentang anak muda tahun 90an, gue kutip quotesnya,

"Jangan datang kepada perempuan untuk dia mau, tapi datanglah ke perempuan untuk buat dia senang" jadi cinta itu gak harus memiliki, mungkin banyak orang yang bilang hal ini bodoh, omong kosong, tapi mereka lupa yang gue pikirin ini adalah sebuah rasa yang gak bisa mereka rasakan.

Gue juga tau kok, lo sebenarnya udah tau kalo gue ini suka sama lo, tapi entah kenapa, lo gak ngerespon perasaan gue, tapi mencintai itu bukan substansi dari dicintai, kedua hal itu, memilih peran yang berbeda, jadi wajar aja kalo gini.

Sebelum mengakhiri cerita, ada puisi yang sengaja gue himpun untuk erina gita, untuk membalas senyumannya.


Pengaggum Jarak 

Ku pikir menatapmu dari kejauhan
Akan membuatku tenang menjalani hidup.
Mencintaimu dari balik layar,
Adalah salah satu keberanian yang ku punya.

Seringkali aku harus mengikhlaskan rindu yang jatuh bersama hujan
Jatuh tak bertepi, mengalir bersama senyuman.
Aku harus berjalan mundur selangkah demi selangkah
Sampai kau tak pernah terganggu oleh kehadiranku.

Kau tau aku berdiri menatapmu dari jauh
Memberimu ruang tersendiri disudut hati yang hampa ini.
Namun, kau hanya mampu menatap tanpa menghampiri.
Mungkin jarak ku terlalu jauh hingga kau tak pernah mengenaliku.

Aku adalah pengagum jarak
Hanya mampu mencintai tanpa harus memiliki
Bukan, ini bukanlah hal bodoh yang mereka fikirkan
Ini hanyalah sebuah rasa yang tak bisa mereka rasakan


Rangga
Alhamdulillah, akhirnya cerpen ini selesai juga, gak sia-sia gue begadang buat mikirin cerpen ini mau dibawa kemana ceritanya. Dan semoga juga gita bisa sukses sama cerpen yang mau dia buat setelah ini (Ironi sang Pengaggum Jarak).

@Alrafsa2020
Related Posts
Naufal Al Rafsanjani
Sekedar mahasiswa yang punya impian sempurna, menginterpretasi kejadian nyata ke dalam tulisan yang bermakna.

Related Posts

2 komentar

Mari kita diskusikan bersama...
Gunakanlah kata-kata yang sopan, dengan tidak menggunakan unsur-unsur kekerasan, sara, dan menyudutkan seseorang. Terima Kasih