Memersepsikan Persepsi: Tradisi Gestalt dan Bourdieu (Essay)

Artikel ini akan memberikan sedikit gambaran mengenai perbedaan persepsi antara tradisi gestalt dengan Bourdieu

Pada mulanya agak sulit memang membandingkan persepsi sebagaimana yang menjadi definisi dalam Tradisi Gestalt dengan yang ditawarkan oleh Pierre Bourdieu, akan tetapi pada akhirnya mulai mendapatkan titik terang setelah menyelidiki latar belakang masing-masing tokoh yang melahirkan pandangan tersebut.

Memersepsikan Persepsi: Tradisi Gestalt dan Bourdieu (Essay)

Max Wertheimer yang membangun Tradisi Gestalt ini adalah seorang psikolog, sementara Bourdieu adalah seseorang yang memiliki pengaruh besar terhadap ilmu sosial.

Berbicara tentang persepsi, tentu saja setiap individu pernah memersepsikan individu lain maupun terhadap suatu fenomena yang terjadi. Berkaitan dengan topik pembahasan, bahwa persepsi yang diamini Tradisi Gestalt dipengaruhi oleh ketertutupan, keberlanjutan, keterdekatan, dan kemiripan (kesamaan). 

Sebagai contoh, ada seseorang yang memiliki persepsi bahwa anggota DPR kerjaannya hanya tidur. Persepsi tersebut muncul dilatarbelakangi oleh kesan pertama yang dilihat oleh seseorang itu merupakan suatu hal yang membentuk keberlanjutan, jadi sangat mungkin bahwa orang tersebut pernah melihat kejadian yang serupa, sehingga muncul benak di kepala persepsi macam itu.

Sementara persepsi bagi Bourdieuan merupakan penggambaran terhadap suatu fenomena yang telah dikonstruksikan oleh suatu kehidupan kolektif. Jadi dapat dikatakan bahwa persepsi dipengaruhi oleh struktur yang seolah alami akan tetapi sebetulnya hal itu merupakan bentuk konstruksi.

Bidang menurut Tradisi Gestalt merupakan keseluruhan rangkaian interaksi sehingga membentuk latar balakang tindakan yang kemudian memicu interaksi sosial dan membentuk pola-pola yang menonjolkan diri, maka itulah yang dinamakan figur, sementara menurut Bourdieu bidang mengacu pada serangkaian interaksi yang disempurnakan secara analitis.

Jika dikaitkan dengan pola pikir kualitatif, bahwasannya Tradisi Gestalt ini menekankan peneliti untuk mempersepsikan masalah yang ditelitinya berdasarkan kondisi yang memungkinkan peneliti untuk menangkap dan memahami sesuatu dengan melihat keterhubungan dari objek yang dipelajarinya, dalam arti peneliti akan mudah memersepsi dengan melihat secara keseluruhan atau kesatuan yang utuh.

Sementara paham Bourdieuan menekankan peneliti untuk menginternalisasi struktur dunia sosial, serta melihat adanya hubungan yang saling memengaruhi antara subjektivitas dan objektivitas.

Jika ingin mendapatkan penjelasan lebih dalam mengenai Tradisi Gestalt, kalian bisa menyimak ceramah yang dilakukan oleh Arip Senjaya, S.Pd.,M.Phil. melalui video dibawah ini:

Demikian Esai kali ini, semoga memberikan sedikit wawasan mengenai perbedaan Tradisi Gestalt dan Bourdieu serta hubungannya dengan penelitian kualitatif. Bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan mari diskusikan bersama melalui kolom komentar ataupun bisa menghubungi admin dengan mengakses halaman kontak

Hidup adalah untaian makna dari kata yang ditulis semesta

Posting Komentar

Mari kita diskusikan bersama...
Gunakanlah kata-kata yang sopan, dengan tidak menggunakan unsur-unsur kekerasan, sara, dan menyudutkan seseorang. Terima Kasih
© Tweet Ilmu. All rights reserved. Edited by Tweet Ilmu