Mengenal Makna Denotatif, Konotatif, dan Afektif Disertai Contoh

Apakah kamu tau apa yang dimaksud dengan makna denotatif, makna konotatif dan makna afektif? berikut merupakan penjelesan lengkap yang disertai contoh

Bahasa adalah sebuah sistem lambang bunyi arbitrer yang digunakan masyarakat untuk berkomunikasi. Ketika berkomunikasi, manusia memiliki makna yang terdapat dalam ucapannya. Salah satu cabang linguistik yang membahas makna adalah Semantik.

Mengenal Makna Denotatif, Konotatif, dan Afektif Disertai Contoh

Kata semantik berasal dari bahasa Yunani sema yang artinya tanda atau lambang (sign). Bentuk verbal dari semantik adalah semaino yang berarti menandai atau melambangkan.

Yang dimaksud dengan tanda atau lambang dalam semantik adalah tanda linguistik. Menurut Saussure, tanda linguistik itu terdiri dari komponen penanda yang berwujud bunyi, dan komponen petanda yang berwujud konsep atau makna (Chaer, 2002).

Makna Denotatif, Konotatif, dan Afektif Disertai Contoh

Makna Denotatif

Makna denotatif (denotative meaning) adalah makna kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas, polos, dan bersifat objektif.

Makna denotatif didasarkan pada penunjukkan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu.

Makna denotatif disebut juga makna dasar, yaitu makna kata yang masih menunjuk pada acuan dasarnya sesuai dengan konvensi masyarakat pemakai bahasa.

Menurut Harley (1995:178), makna denotatif dari sebuah kata merupakan intinya, makna yang paling mendasar, semua orang mengerti dan setuju dengan makna kata secara denotatif.

Makna denotatif atau makna yang sering disebut dengan makna denotasional, makna konseptual, atau makna kognitif karena dilihat dari sudut pandang yang lain pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotatif ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya.

Jadi, makna denotatif itu menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Kemudian, makna denotatif juga sering disebut sebagai makna yang sebenarnya.

Misalnya, kata perempuan dan wanita kedua kata tersebut memiliki makna denotasi yang sama, yaitu ‘manusia dewasa bukan laki-laki’.

Sama halnya dengan kata gadis dan perawan keduanya memiliki makna denotasi sama yaitu ‘wanita yang belum bersuami’ atau ‘belum pernah bersetubuh.

Begitu juga dengan kata istri dan bini memiliki makna denotasi yang sama yaitu ‘wanita yang memiliki suami’.

Makna Konotatif

Makna konotatif (conotative meaning) adalah aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca) (Kridalaksana,

1984:106 dalam Rosidin, 2019:177).

Menurut Chaer (1997:28) konotasi adalalah nilai rasa positif, negatif maupun netral, makna konotasi disebut juga sebagai makna tambahan yang ada pada setiap kata.

Makna konotasi muncul sebagai akibat asosiasi perasaan pemakai bahasa terhadap kata yang didengar atau dibaca (Pateda, 2011:112).

Konotasi adalah kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi yang biasanya bersifat emosional dan subjektif.

Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap leksem yang digunakan.

Makna konotatif bertalian erat dengan nilai rasa pemakai bahasa, yang dapat berupa rasa hormat, senang, benci, jengkel, jijik, dan lain-lain.

Dan nilai rasa lah yang kemudian menentukan konotasi suatu kata dapat termasuk ke dalam positif maupun negatif.

Contohnya, leksem langsing dan kurus. Leksem langsing dan kurus mempunyai makna denotatif yang sama.

Dalam hubungannya dengan manusia, kedua kata itu mengacu pada seorang yang mempunyai berat badan kurang.

Namun, kedua leksem itu mempunyai konotasi yang tidak sama. Bertubuh langsing merupakan idaman, khususnya bagi banyak wanita.

Sebaliknya, bertubuh kurus jelas tidak diharapkan karena kurus memiliki konotasi negatif, misalnya kurang gizi, kurang asupan makanan, dan tidak terurus.

Makna Afektif

Makna afektif adalah istilah yang dipakai untuk jenis makna, seringkali secara eksplisit diwujudkan dalam kandungan konseptual atau konotatif dari kata-kata yang dipergunakan (Leech, 2003).

Kita bisa melihat bahwa bahasa juga dapat mencerminkan perasaan pribadi penutur, termasuk sikapnya terhadap pendengarnya, atau sikapnya mengenai sesuatu yang dikatakannya.

Makna afektif (affective meaning) adalah makna yang muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan bahasa.

Makna afektif bertalian dengan reaksi pendengar atau pembaca dalam dimensi rasa. Dengan demikian, makna afektif bertalian pula dengan gaya bahasa (Rosidin, 2019:178).

Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara pemakai bahasa secara pribadi, baik terhadap lawan maupun terhadap objek yang dibicarakan.

Makna afektif lebih terasa secara lisan daripada secara tertulis (Chaer, 2009). Makna afektif sebagian besar termasuk kategori parasit dalam arti bahwa untuk mengungkapkan emosi, kita menggunakan perantara kategori makna yang lain konseptual, konotatif, atau stilistik.

Ungkapan emosional melalui gaya misalnya saja terlontar jika kita menggunakan nada tidak sopan untuk mengungkapkan ketidaksenangan.

Di samping itu ada unsur-unsur bahasa yang fungsinya adalah mengungkapkan emosi. Jika kita menggunakan ini, kita mengkomunikasikan perasaan dan sikap tanpa perantara fungsi semantik yang lain (Leech, 2003).

Makna afektif akan bisa mendeteksi kebohongan dengan cara pengungkapan emosi berlebihan pada suatu hal.

Karena penutur menggunakan kata yang berdampak pada penguatan makna kata untuk menggambarkan tingkat emosi penutur terhadap sebuah persoalan.

Dengan demikian, penggunaan kata yang berlebihan dan cenderung mengusung emosi berlebih, maka penggunaan kata tersebut mencerminkan kebohongan penutur dalam setiap tuturannya.

Perhatikanlah contoh berikut ini.

a) “Kalau ada waktu, mampirlah ke gubuk saya di Gang Veteran itu.

Gabungan leksem “gubuk saya” mengandung makna afektif. Jika mendengar ujaran

tersebut, pendengar atau pembaca akan merespons sesuai perasannya.

Bila perasaan pendengar dalam keadaan senang, maka penutur yang menuturkan kalimat itu akan dianggap rendah hati.

Namun jika di dalam hati pendengar mengindikasikan ketidaksukaan, maka kalimat tersebut akan dimaknai negatif, misalnya “penutur sok-sokan/ pura pura merendahkan hatinya, padahal berniat sombong.

b) “Terimalah imbalan yang tidak seberapa ini.

imbalan yang tidak seberapa ini” merupakan gabungan leksem yang juga memiliki makna afektif. Dalam konteks itu, pendengar atau pembaca akan mereaksi sesuai dengan perasaannya.

Jadi dapat disimpulkan:

Makna DenotatifMakna KonotatifMakna Afektif
Makna denotatif (denotative meaning) adalah makna kata yang didasarkan atas penunjukan yang lugas, polos, dan apa adanya. Makna denotatif didasarkan pada penunjukkan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan atas konvensi tertentu. Dengan demikian, makna denotatif adalah makna yang sebenarnya.Makna konotatif (conotative meaning) adalah aspek makna sebuah atau sekelompok kata yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau ditimbulkan pada pembicara (penulis) dan pendengar (pembaca). Konotasi adalah kesan-kesan atau asosiasi-asosiasi yang biasanya bersifat emosional dan subjektif. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa makna konotatif muncul sebagai akibat asosiasi perasaan kita terhadap leksem yang digunakan.Makna afektif (affective meaning) adalah makna yang muncul akibat reaksi pendengar atau pembaca terhadap penggunaan bahasa. Makna afektif bertalian dengan reaksi pendengar atau pembaca dalam dimensi rasa. Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara pemakai bahasa secara pribadi, baik terhadap lawan maupun terhadap objek yang dibicarakan.

Demikian artikel mengenai Mengenal Makna Denotatif, Konotatif, dan Afektif Disertai Contoh, semoga bisa menjadi referensi dan menambah wawasan pembaca, bila ada hal kurang jelas, mari diskusikan bersama melalui kolom komentar.

Hidup adalah untaian makna dari kata yang ditulis semesta

Posting Komentar

Mari kita diskusikan bersama...
Gunakanlah kata-kata yang sopan, dengan tidak menggunakan unsur-unsur kekerasan, sara, dan menyudutkan seseorang. Terima Kasih
© Tweet Ilmu. All rights reserved. Edited by Tweet Ilmu