Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hakikat dan Pengertian Analisis Wacana Menurut Beberapa Ahli

Tweetilmu.web.id - Pada kesempatan kali ini saya akan membagikan sedikit materi mengenai analisis wacana yang merupakan salah satu mata kuliah yang dipelajari dalam program studi Pendidikan Bahasa Indonesia Semester 3.

Hakikat dan Pengertian Analisis Wacana

Pengertian Wacana

Wacana merupakan satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang berkesinambungan serta mempunyai awal dan akhir yang nyata, disampaikannya secara lisan atau tulisan (Tarigan, 1987:27). 

Wacana adalah satuan bahasa terlengkap; dalam hierarki tatabahasa merupakan satuan tatabahasa tertinggi atau terbesar. Wacana itu direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dsb), paragraf, atau kata yang membawa amanat yang lengkap (Kridalaksana, 1982- 179)

Wacana merupakan rentetan kalimat yang berkaitan serta menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lain untuk membentuk suatu kesatuan (Moeliono & Dardjowidjojo, 1988:334).

Samsuri mengemukakan pendapatnya mengenai wacana yaitu rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain.  Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan.

Hasan Alwi, dkk (2000:41) menjelaskan pengertian  wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu.

Van Dijk (1997:3) mengemukakan bahwa wacana adalah suatu abstract theoretical construct. Wacana adalah konstruksi teoretis abstrak yang terwujud melalui teks.


Pengertian Analisis Wacana

Stubbs (dalam Oetomo, 1993: 4) menyatakan bahwa analisis wacana merujuk pada upaya mangkaji pengaturan bahasa di atas kalimat atau klausa.

Kartomihardjo (1993 : 21) menyatakan bahwa analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat dan lazim disebut wacana.

Jadi analisis wacana lebih pada suatu pengkajian suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat yang juga melibatkan aspek-aspek di luar aspek linguistik yang turut memberi makna terhadap suatu bahasa yang digunakan tersebut. Unit bahasa yang dimaksud bisa berupa paragraf, teks bacaan, undangan, percakapan, cerita pendek, dan sebagainya.


Penjelasan Tentang Analisis Wacana

Istilah wacana atau discourse dalam bahasa Inggris secara etimologis berasal dari bahasa Latin yaitu discursus, yang berarti ‘lari kian kemari’. Di negara kita sendiri istilah wacana ini merupakan istilah yang baru dikenal , sebelum ini kita lebih mengenal karangan daripada istilah wacana.

Definisi wacana telah banyak dikemukakan oleh ahli bahasa. Secara leksikal, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa wacana merupakan 1) komunikasi verbal; percakapan, 2) keseluruhan tutur yang merupakan satu kesatuan, 3) satuan bahasa terlengkap, yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato, atau khotbah (2001:1265).

Sementara itu, dalam Webster’s New Twentieth Century Dictionary (1983:522) istilah wacana atau discourse diartikan sebagai 1) komunikasi pikiran dengan kata-kata; ekspresi dengan ide-ide atau gagasan-gagasan; konversasi atau percakapan, 2) komunikasi secara umum, terutama sebagai suatu subjek studi atau pokok telaah, 3) risalat tulis; disertasi formal; kuliah; ceramah; khotbah. 

Lalu Oxford Companion to the English Language (1992:316) mengartikan wacana sebagai 1) secara umum selalu berupa bentuk formal suatu pembicaraan, percakapan, dialog, ceramah, khotbah, atau risalat, 2) adakalanya merupakan bentuk bahasa dan kaidahnya secara umum; wacana manusia atau wacana filsafat, dan 3) dalam linguistik, sebuah unit atau bidang rangkaian ujaran atau tulisan yang lebih panjang dari sebuah kalimat konvensional. 

Pengertian wacana yang dikemukakan oleh pakar linguistik berikut ini secara umum mendukung definisi wacana secara leksikal di atas. Wacana, menurut Edmonson (1981:4) merupakan peristiwa komunikasi yang terstruktur yang dimanifestasikan dalam perilaku linguistik yang membentuk suatu keseluruhan yang padu. Wacana, dalam pandangan Richards, Platt, dan Webber (1985:83) dimaknai sebagai 1) ”a general term for examples of language use, i.e. language wich has been produced as the result of an act of communication” dan 2) “larger units of language such as paragraphs, conversation, and interviews. Maksudnya, wacana merupakan bentuk umum dari perggunaan bahasa sebagai hasil tindak komunikasi yang bentuknya dapat berupa paragraph, percakapan, atau wawancara. 

Sehubungan dengan pengertian wacana, Kridalaksana (1993: 23) mengartikan wacana sebagai satuan bahasa terlengkap yang dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Bentuknya dapat berupa karangan utuh (novel, buku, seri ensiklopedi, dsb.), paragraf, kalimat, dan kata beramanat lengkap. Satuan bahasa terlengkap dalam sebuah wacana itu, menurut Moeliono dkk. (1988: 34) dapat berupa rentetan kalimat yang saling berkaitan yang mampu menghubungkan proposisi-proposisi yang ada menjadi sebuah kesatuan. Kemudian, Tarigan (1987: 27) mengatakan bahwa wacana adalah satuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir nyata disampaikan secara lisan atau tertulis

Sementara itu Syamsuddin (1995: 5) mengartikan wacana sebagai rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam satu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa. Dengan demikian, sebuah wacana di samping harus memuat satuan bahasa yang bermakna utuh, juga dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental bahasa.

Kenyataan bahwa wacana melibatkan unsur segmental maupun nonsegmental dapat dipahami mengingat wacana merupakan wujud penggunaan bahasa dalam berkomunikasi, yang tidak saja mempergunakan seperangkat alat linguistik seperti fonem, morfem, kata, frase, kalusa, dan kalimat, tetapi juga memperhatikan konteks seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, anamat, dan saluran komunikasi

Samsuri (1988:1) mengartikan wacana sebagai rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa kjomunikasi. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan. Wacana mungkin bersifat transaksional, jika yang dipentingkan ialah isi komunikasi, tetapi juda dapat bersifat interaksional, jika merupakan komunikasi timbal balik. 

Dengan berlandaskan pada sejumlah pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa wacana merupakan satuan bahasa terlengkap yang dibentuk oleh unsur segmental maupun nonsegmental sebagai wujud penggunaan bahasa dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, yang memiliki makna utuh.


Demikian pembahasan Materi kali ini, semoga bermanfaat dan menjawab apa yang kalian cari, tulisan ini bersumber dari dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Dr. Asep Muhyidin, M.Pd.

Bila ada hal yang kurang jelas dan ingin ditanyakan, mari kita diskusikan bersama melalui kolom komentar, ataupun bisa menghubungi saya sekalu penulis dengan mengakses halaman kontak admin. Terima kasih.

Naufal Al Rafsanjani
Naufal Al Rafsanjani Hidup adalah untaian makna dari kata yang ditulis semesta

2 komentar untuk "Hakikat dan Pengertian Analisis Wacana Menurut Beberapa Ahli"

Mari kita diskusikan bersama...
Gunakanlah kata-kata yang sopan, dengan tidak menggunakan unsur-unsur kekerasan, sara, dan menyudutkan seseorang. Terima Kasih