UYmJLCizCo2ZTQJP06dFQPoA3AYXIznXlgFMCQ7t

Partisipasi dan Konsistensi adalah Kunci Zero Waste Cities

Pengolahan Sampah di Tanah Air hingga saat ini dapat dikatakan jauh dari kata baik, dan masih menjadi pekerjaan rumah yang pelik, hal ini didasari oleh data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagaimana dilansir dari Kejarmimpi.id, produksi sampah nasional bisa mencapai 175.000 ton/hari, dan bahkan menurut survei yang pernah dilakukan INAPLAS dan BPS menyebutkan bahwa Indonesia menjadi negara terbesar kedua penghasil sampah plastik terbanyak di dunia, namun juga terdapat sumber lain yang mengatakan bahwa Indonesia peringkat 11 penghasil sampah plastik terbanyak. Tentunya miris mendengar fakta yang menyebutkan itu dan bukan sesuatu hal yang dapat dibanggakan.

Sistem Pengolahan Kompos Bata Terawang
Source: http://ypbbblog.blogspot.com/

Sistem Pengolahan sampah yang baik dan menggunakan teknologi tinggi yang saat ini belum kita miliki atau sudah dimiliki namun belum tersebar luas dan dimanfaatkan dengan maksimal, padahal jika saja pemerintah mau belajar dari negara luar, sebagai contoh Jerman sebagai negara dengan tingkat daur ulang sampah terbaik di dunia berdasarkan data Eunomia yang dikutip oleh World Economic Forum, bahkan persentase sampah yang dapat negara itu daur ulang mencapai angka 50%, di negara itu juga sebelum sampah diolah, sampah terlebih dahulu dipilah sesuai dengan jenis, sehingga proses pengolahan maupun daur ulang dapat lebih mudah dilakukan.

Sebetulnya di Indonesia terdapat beberapa kota yang mampu mengolah sampah dengan baik menurut survei yang dilakukan oleh Lokadata, kota-kota tersebut ialah Aceh, Surakarta, Poso, dan 7 kota lainnya. Harusnya kota-kota lain apalagi Ibukota Jakarta mampu meniru kota Aceh mengenai pengelolaan sampah yang baik, bahkan Banda Aceh mampu mengelola 95% sampah yang dihasilkan, harusnya hal ini mampu menginspirasi kota-kota besar lainnya.

Sementara itu pemerintah melalui UU No. 18 Tahun 2008, menyebutkan bahwa pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Tidak sampai disitu, bahkan Presiden Joko Widodo juga telah mengeluarkan Perpres 27 tahun 2020 tentang aturan pelaksanaan UU No 18 tahun 2008 diatas.

Permasalahan pengelolaan sampah adalah hal multidimensi, artinya diperlukan sebuah kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk memilah sampah berdasarkan jenisnya dari kawasan masing-masing dan perlu pula sebuah sosialisasi yang ditujukan baik untuk masyarakat, petugas pengangkut sampah maupun pemerintah sebagai pemegang kebijakan agar semua dapat memahami dan tidak melulu miskonsepsi, karena permasalahan pengolalan sampah adalah masalah bersama dan tidak bisa dianggap enteng.

Padahal pengelolaan sampah yang baik dapat memberikan manfaat apalagi jika dibekali dengan inovasi, seperti yang dilakukan di banda aceh tadi, sampah yang menghasilkan gas metan hasil pengolahan mampu dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk memasak, terhitung ada ± 210 keluarga di Gampong Jawa dan Gampong Pande yang menikmati manfaat itu selama 3 tahun terakhir. 

Lalu juga seperti yang dilakukan di kota Surabaya, sampah dikelola untuk kemudian dijadikan sebuah energi listrik, kegiatan ini dilakukan pada Pembangkit Listrik Tenaga Sampah yang ada di Bewono, yang mampu menyulap sampai dengan 1000 ton sampah perhari untuk kemudian ditransformasikan menjadi listrik 12 Megawatt. 

Ada pula inovasi lainnya yang diciptakan oleh para mahasiswa UGM Yogyakarta, yang mampu menciptakan sebuah mobil berbahan bakar limbah plastik.

Sosialisasi Zero Waste Lifestyle
Source: http://ypbbblog.blogspot.com/

Bicara soal inovasi dan aksi, sebetulnya ada sebuah program yang mulai digalakan sejak tahun 2017 yang diprakarsai oleh YPBB di kota Bandung dan kota Cimahi, program itu dinamakan Zero Waste Cities sebagaimana dikutip dari ayobandung.com, ZWC merupakan pengembangan sistem pengumpulan sampah terpilah dan pengolahan sampah secara holistik dan berkelanjutan meliputi aspek edukasi, operasional, kelembagaan, regulasi dan pembiayaan, dan lebih kerennya lagi anak muda juga mau berpartisipasi untuk menjadi relawan dan trainers Zero Waste Lifestyle.

Berangkat dari semangat program tersebut yang mengawali pengelolaan sampah dimulai dari kawasan, perlu dicontoh oleh kota-kota lainnya apalagi kota dengan penghasil sampah terbanyak, agar nantinya pengolahan sampah dan daur ulang sampah bisa dilakukan secara efektif.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kesadaran masyarakat, lalu juga petugas sampah, masih sangat rendah apalagi apalagi jika saya mengambil contoh dari kota yang saya tempati di Jakarta, karena kebanyakan sampah-sampah dari rumah tangga semua disatukan dalam satu wadah yang sama tanpa dipilah, atau dalam kasus lain, sampah sampah tersebut sudah dipilah dari rumah, namun kembali disatukan dalam wadah yang sama oleh petugas sampah.

Hal ini tentu perlu sebuah kesadaran dan mau bertindak untuk membenahi, selain itu juga seharusnya pemerintah mau menengok dan mendukung gagasan yang dikembangkan oleh para pemuda tanah air, lalu juga inovasi yang telah diciptakan, sebagaimana contoh YPBB tadi dengan program Zero Waste Cities: pengolahan sampah dari kawasan, dan memberikan bukan hanya aturan yang jelas tetapi juga tegas, dan dituntut sebuah implementasi, partisipasi dan konsistensi dari semua kalangan dan jangan lagi menganggap remeh persoalan pengelolaan sampah, karena bagaimana bisa wacana yang dikemukakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terwujud mengenai Indonesia Tanpa Sampah Tahun 2025, jika baik pemerintah maupun masyarakat yang ada di dalamnya menganggap persoalan ini sebelah mata.

Pemerintah seharusnya bukan hanya mengatur kebijakan lalu memberikan sanksi, akan tetapi juga mau membantu mensosialisasikan, mengkampanyekan kepada masyarakat, dan bersinergi dengan Pemerintah Daerah, lalu juga memberikan anggaran yang besar untuk pengelolaan sampah yang maju dan modern, sehingga apa yang menjadi tujuan, tidak hanya sebatas impian, namun juga berwujud dalam bentuk kenyataan.


Oleh: Naufal Al Rafsanjani

(Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa)

#ZeroWasteCities  #KompetisiBlogZWC #KompakPilahSampah

Related Posts
Naufal Al Rafsanjani
Sekedar mahasiswa yang punya impian sempurna, menginterpretasi kejadian nyata ke dalam tulisan yang bermakna.

Related Posts

Posting Komentar