UYmJLCizCo2ZTQJP06dFQPoA3AYXIznXlgFMCQ7t

Garuda Tak Bersayap [Cerpen]

Tweetilmu.web.id - Cerpen ini merupakan karya ke-4 penulis, yang memiliki genre yang berbeda dari cerpen sebelumnya.
Ilustrasi Garuda Tak Bersayap (Pixabay)

"Ketika Garuda Tak Mampu Membuka Sayapnya Dengan Sempurna, Tak Akan Ada Nama Sejahtera, Tak Ada Lagi Rasa Bahagia, yang Ada Hanya Pikiran Yang Menduga, Curiga Dihampiri Derita"

Sejarah panjang mengawali kisah tumbuh kembangnya 'Burung Garuda' mulai dari masa dimana diburu, akibat terbang diatas negara yang sedang diinvasi, lalu dipiara, dimanfaatkan, bahkan ada juga yang bermukim didalam penjara karena diduga terbang melawan arah. Ratusan tahun menunggu, dan tibalah saatnya Garuda menunjukkan kesaktiannya, memperlihatkan bagaimana ia terbang dengan piawai, mengepak-ngepakan kedua sayapnya, bahkan setiap peluru yang terlontar dari senapan pemburu asal negeri kincir angin dan negeri sakura pun, dapat dihindari dengan mudah, dan bahkan sang pemburu pun kewalahan dan memutuskan untuk menyerah melucuti senjatanya.

Mulai dari situ lahir lah sebuah semboyan bahasa sansekerta yang sangat terkenal di Nusantara.

Bahkan Garuda yang memberikan andil dalam proses kemerdekaan Nusantara, turut menjadi burung yang istimewa, karena fotonya, ukirannya, replikanya bahkan patungnya tersebar luas di seluru penjuru negeri pancasila.
_______________

"Bu, nanti kalau aku sudah besar, aku boleh jadi 'paduka yang mulia' gak?"
"Tentu boleh dong nak, kalau kamu tekun belajar, pasti kamu bisa kok, jadi paduka yang mulia"
"Ibu doain aku ya bu"
"Ibu selalu doain kok, semoga kelak kamu bisa menjadi paduka yang mulia, yang selalu cinta terhadap rakyatnya, dan bijaksana dalam menentukan arah bangsa"

Itulah cita cita mulia seorang pemuda yang lahir di tengah pulau jawa, hidup dalam keluarga yang sederhana.

Hipster namanya, tentu saja itu bukan nama asli, nama itu hanya sebutan, karena ia sering sekali mengendarai sepeda motor kesayangannya sambil membawa tanaman ginseng, sementara ibunya bernama pertiwi, ibu yang sangat menyayangi dirinya.
_______________

Perjalanan Garuda yang sudah terbebas dari para pemburu justru terhambat, ketika sayap kanannya robek, karena tak mampu menahan badai yang menerpa, sebuah badai yang tak biasa, badai yang terjadi di Nusantara, badai yang memuat derita didalamnya, derita rakyat jelata yang menuntut 'Bapak untuk Bijaksana', krisis terjadi dimana mana, uang tak lagi berarti, bahkan penjarahan sudah sangat sering terjadi, sang Garuda pun merintih kesakitan, matanya berkaca-kaca, bahkan mulutnya sudah enggan membuka suara.

Nampaknya Burung Garuda sakit hati, karena The Smiling General, yang tak lain adalah sahabatnya, justru ingkar janji, sang garuda pun sebenarnya ingin sekali memarahinya, namun sekali lagi, ia tak lagi mampu berkata, yang ia ingat saat itu ialah, banyak manusia Nusantara yang berbondong bondong menuju batavia, dari masyarakat biasa, buruh, bahkan pelajar dengan gelar maha pun, dengan keras berteriak menuntut segala haknya. Huft... kejadian yang luar biasa.

Sayap garuda kini berangsur-angsur pulih, bahkan raut wajahnya sudah mampu tersenyum kembali, akhirnya ia memutuskan untuk kembali terbang, menengok setiap baris pulau Nusantara yang katanya kaya akan SDA, tapi ada keanehan yang terjadi, SDA itu ternyata cuma dirasakan oleh kaum berdasi, yang diam-diam menguasai, serta menanam benih di bumi pertiwi, dan ironisnya tak ada lagi istilah sederhana jadi kaya, justru sederhana makin menderita.

Setelah mengamati tambang Nusantara, selanjutnya garuda terbang mengamati norma-norma, kini matanya terperangah melihat kinerja bapak hakim dan jaksa, yang seringkali berpihak pada kaum kuat nan kaya raya, ada pula tulisan yang menghiasi pondasi tembok pengadilan, "hukum tumpul keatas, tajam kebawah" rasa kecewa mulai menghampiri, bahkan sudah banyak yang masuk kehati, banyak yang berteriak, banyak juga yang disekap, luar biasa pancasila...

Seharian mengudara, kini rasa lapar mulai terasa, lalu sang Garuda membuka Peta Nusantara, ia kaget karena didalam peta ada banyak kendaraan yang berserakan dijalan, berbaris-baris layaknya sedang upacara, itu namanya ibukota. kini ia hendak menuju gedung yang memiliki cap pemerintah, karena kabarnya, disana ada santapan yang amat lezat, yakni tikus negara, sebagai negara yang masuk jajaran penghasil tikus terbanyak, Nusantara sangat hebat dalam memelihara nya, banyak dari mereka yang berlarian ke negara tetangga, dengan bermodalkan uang negara, bahkan bebas keluar masuk Batavia dan bahkan, ada yang kini keberadaan nya tak lagi dikenal dunia.

Tikus yang pintar tentunya, terkadang bisnis gelap memang lebih menguntungkan, lihat saja narkoba, masih banyak peminatnya, meski negara sudah melarangnya.

Pada abad ke 21 sudah banyak tikus yang ditangkap, sekedar dimasukan kedalam penjara, yang agaknya lebih mirip hotel bintang lima, tentu saja mereka betah, karena ternyata ada kemudi didalamnya.... Lagi-lagi... Luar biasa...

Tepuk tangan yang meriah untuk pejabat negara...

Dulu sewaktu kampanye sambil membawa bendera segala macam bentuk rupa, mereka berteriak-teriak, suara mereka menggema merayu-rayu dan menjanjikan hidup sejahtera, namun mereka berkata dusta, karena justru 'menderita' lah yang datang dengan sengaja.

Burung Garuda yang sedari tadi lapar mulai melahap beberapa, namun jumlahnya tak kira kira, semakin banyak, semakin banyak, bahkan burung Garuda pun, tak mampu mengunyah semuanya, beberapa diantaranya dibiarkan begitu saja, hilang dari hadapan mata.

Kini Burung Garuda pun bingung, mana pemimpin yang mampu mendidik Nusantara? Sementara kini hipster sudah menjadi paduka yang mulia, namun nampaknya ia masih bingung bagaimana cara Nusantara untuk sejahtera, anak buahnya banyak yang kontroversi, bahkan oposisi mulai kolaborasi, lucunya Republik ini.

Ibu Pertiwi yang tak lain ibunda dari Hipster pun terus berdoa diiringi linangan air mata, walau dia sebenarnya punya keinginan, tapi keadaan ternyata punya kenyataan.

Semoga saja Nusantara menjadi lebih sehat ditangannya, sementara beliau masih konsisten bergaya layaknya sederhana, walau sebenarnya tak ada sederhana yang tinggal di istana, kebanyakan yang sederhana hanya tinggal di gubuk pinggiran ibukota, yang mungkin sebentar lagi akan digusur oleh bangunan bertingkat milik orang kaya.

Kini Burung Garuda mulai kelelahan menatap bumi Nusantara, sayapnya tak lagi sempurna, umurnya tak lagi belia, sementara kini dirinya bermukim dalam suatu goa, yang gelap, sepi, tidak bising suara hilir mudik kendaraan.

Ia mendapat kabar bahwa teknologi mulai datang merubah tatanan kehidupan, kini di bumi sudah tercipta dua kehidupan, kehidupan nyata dan kehidupan maya, orang-orang saling berlomba dalam menguasai salah satunya, ada juga yang bertekad menguasai keduanya, edan kata orang sumatera...

5 tahun berlalu, bumi Nusantara nampaknya sudah banyak perubahan, sudah banyak jembatan yang melayang, sementara kawasan hijau kini sudah diranjau, dirampas haknya, untuk membangun kawasan yang megah katanya, tikus-tikus pun tertawa, karena ada proyek besar yang akan mampir didepan mata.

Burung Garuda kini sudah tua, tak lagi mampu keliling Nusantara seperti sedia kala, sayapnya yang paling ia bangga, kini tak mampu terbuka dengan sempurna, tak ada lagi cerita soal pesona negeri pancasila, kini ia hanya menatap kinerja dari layar kaca, menganggap semuanya baik-baik saja, padahal faktanya kekacauan terjadi dimana mana.

Matanya yang dulu lebih tajam dari pisau, kini justru buta, seperti hukum di negeri kita, manusia memang tak ada yang sempurna, tapi bukan berarti tidak berusaha sekuat tenaga.

Catatan:
Cerpen diatas ditulis berdasarkan keresahan penulis, terkait permasalahan yang diangkat semua diambil berdasarkan mata yang melihat, serta kuping yang mendengar. Jika ada kata-kata yang kurang pantas ataupun perlu diralat, silahkan tulis dikolom komentar, karena kritik kalian sangat membantu penulis agar bisa terus berkembang terima kasih.

Related Posts
Naufal Al Rafsanjani
Sekedar mahasiswa yang punya impian sempurna, menginterpretasi kejadian nyata ke dalam tulisan yang bermakna.

Related Posts

Posting Komentar